ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam)
Salah satu problem yang masih menjadi perdebatan di kalangan<br />ahli hukum Islam adalah masalah kelahiran hukum Islam.<br />Masalah tersebut telah memecah para ahli tersebut ke dalam<br />dua kubu yang bertentangan. Kubu pertama berpendapat<br />bahwa hukum Islam merupakan...
Main Author: | |
---|---|
Format: | Article |
Language: | Arabic |
Published: |
State College of Islamic Studies Pamekasan (STAIN Pamekasan)
2014-10-01
|
Series: | Al Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial |
Online Access: | http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/329 |
id |
doaj-3b3f30f853c34bddb91bdb60ade9b83d |
---|---|
record_format |
Article |
spelling |
doaj-3b3f30f853c34bddb91bdb60ade9b83d2020-11-25T01:11:44ZaraState College of Islamic Studies Pamekasan (STAIN Pamekasan) Al Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial1907-591X2442-30842014-10-017227929210.19105/al-ihkam.v7i2.329329ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam)Muntaha Umar0Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Madura, Kompleks PP. Miftahul Ulum BettetSalah satu problem yang masih menjadi perdebatan di kalangan<br />ahli hukum Islam adalah masalah kelahiran hukum Islam.<br />Masalah tersebut telah memecah para ahli tersebut ke dalam<br />dua kubu yang bertentangan. Kubu pertama berpendapat<br />bahwa hukum Islam merupakan produksi para qadlî pada masa<br />Bani Umayah. Argumentasi yang disuguhkan adalah bahwa<br />Nabi Muhammad bukanlah seorang ahli hukum dan memang<br />tidak meminati bidang ini. Sebaliknya, kubu kedua berpendapat<br />bahwa hukum Islam sesungguhnya lahir pada masa Nabi<br />Muhaammad dan bahkan diformulasikan sendiri olehnya.<br />Perdebatan antara kedua kubu inilah yang hendak<br />diperlihatkan dalam artikel ini disertai argumentasi yang<br />mendasari kubu masing-masing dan kritik yang dilancarkan<br />oleh keduanya. Pandangan kubu pertama bisa dipahami<br />karena dalam mengembangkan tesisnya, ia tidak melihat al-<br />Qur’an sebagai unsur yang patut diperhitungkan. Sebaliknya,<br />kubu kedua mendasarkan tesisnya pada ayat al-Qur’an.http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/329 |
collection |
DOAJ |
language |
Arabic |
format |
Article |
sources |
DOAJ |
author |
Muntaha Umar |
spellingShingle |
Muntaha Umar ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam) Al Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial |
author_facet |
Muntaha Umar |
author_sort |
Muntaha Umar |
title |
ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam) |
title_short |
ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam) |
title_full |
ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam) |
title_fullStr |
ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam) |
title_full_unstemmed |
ORISINALITAS HUKUM ISLAM (Meretas Kontroversi Seputar Kelahiran Hukum Islam) |
title_sort |
orisinalitas hukum islam (meretas kontroversi seputar kelahiran hukum islam) |
publisher |
State College of Islamic Studies Pamekasan (STAIN Pamekasan) |
series |
Al Ihkam: Jurnal Hukum & Pranata Sosial |
issn |
1907-591X 2442-3084 |
publishDate |
2014-10-01 |
description |
Salah satu problem yang masih menjadi perdebatan di kalangan<br />ahli hukum Islam adalah masalah kelahiran hukum Islam.<br />Masalah tersebut telah memecah para ahli tersebut ke dalam<br />dua kubu yang bertentangan. Kubu pertama berpendapat<br />bahwa hukum Islam merupakan produksi para qadlî pada masa<br />Bani Umayah. Argumentasi yang disuguhkan adalah bahwa<br />Nabi Muhammad bukanlah seorang ahli hukum dan memang<br />tidak meminati bidang ini. Sebaliknya, kubu kedua berpendapat<br />bahwa hukum Islam sesungguhnya lahir pada masa Nabi<br />Muhaammad dan bahkan diformulasikan sendiri olehnya.<br />Perdebatan antara kedua kubu inilah yang hendak<br />diperlihatkan dalam artikel ini disertai argumentasi yang<br />mendasari kubu masing-masing dan kritik yang dilancarkan<br />oleh keduanya. Pandangan kubu pertama bisa dipahami<br />karena dalam mengembangkan tesisnya, ia tidak melihat al-<br />Qur’an sebagai unsur yang patut diperhitungkan. Sebaliknya,<br />kubu kedua mendasarkan tesisnya pada ayat al-Qur’an. |
url |
http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/329 |
work_keys_str_mv |
AT muntahaumar orisinalitashukumislammeretaskontroversiseputarkelahiranhukumislam |
_version_ |
1725170053653987328 |